March 08, 2010

Cara Mengobati Kecanduan Game Online

Perkembangan pengguna internet di dunia dan di Indonesia sangat pesat. Hal ini memicu munculnya tren baru di kalangan pengguna internet. Bermain game online adalah salah satu tren yang sedang mewabah saat ini.

Permainan game online kini tengah digandrungi anak-anak dan kaum muda. Tren game online saat ini menjadi konten hiburan sekaligus memberi pengalaman berkomunitas, kerja sama tim, dan melatih kecermatan serta kecepatan bagi penggilanya. Sederhananya, game online adalah permainan eletronik berbasis teknologi audio video dengan bantuan komputer. Hanya saja, sebagai medianya, game online menggunakan jaringan internet.

Beberapa game online yang cukup populer di antaranya Master of Fantasy Ragnarok, GetAmped R, Seal Online, dan RF Online. Sebutlah Ragnarok yang genre massive multiplayer online role playing game (MMORPG), Pangya yang bergenre fantasy sport, atau malah Gunbound yang masuk kategori turn based. Jenis genre macam itu yang kemudian mengotak-ngotakkan beberapa game sehingga mempunyai penggemarnya sendiri. Hal ini yang membedakan dengan game online standar yang jamak dijumpai di situs-situs macam Yahoo atau MSN.

Masih banyak game kekerasan dan sadis lainnya yang menjadi tren bagi usia anak-anak hingga dewasa. Game yang sarat dengan penembakan, pemukulan tendangan dan saling banting seperti WWF Smack Down, Tekken, Mortal Kombat, Naruto, atau pun Resident Evil. Sedangkan game yang bernuansa dunia hitam dan perkelahian antar geng, kini sedang naik daun. Seperti Mafia, Triad, Yakuza, Bully Scholarship Edition, ManHunt, Crime Life: Gang Wars, The GodFather dan sebagainya.

Siapa saja bisa ikut dalam permainan ini, dan memilih karakter yang mereka inginkan. Para pemain juga dapat memilih senjata dan perlengkapan yang akan mereka gunakan dalam permainan. Pada intinya, permainan ini seakan sebuah petualangan di dunia maya, dimana kita serasa benar-benar terlibat di dalamnya.

Dengan uang Rp5.000, anak-anak sudah bisa mengakses game online di warnet. Game adalah permainan yang mengasyikan dan menghibur anak. Anak diajak menjelajahi dunia lain yang penuh tantangan dan meningkatkan adrenalin mereka. Banyak hal yang dapat mereka pelajari. Selain itu, mereka juga dapat menjadi superior (pahlawan) dengan memegang kendali atas tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Agar dapat berjalan sesuai dengan keinginan sang pemainnya, yaitu menjadi pemenang dengan poin minimal mencapai target.

Begitu juga yang terjadi pada pasangan Ratna (35) dan Jeffry (38), warga Jalan Tasbih Medan. Pasangan satu ini memiliki empat putra yang telah kecanduan game online. Gara-gara maniak game, anak sulungnya yang duduk di bangku SMU tidak mau lagi melanjutkan sekolahnya. Sedangkan putra ketiganya saat ini ogah-ogahan sekolah dan sering bolos sekolah hanya karena game online. “Awalnya anak-anakku kecanduan game di play station. Ayahnya membelikan play station agar anak kami betah di rumah. Tapi malah jadi kecanduan main play station,” ungkap Ratna.

Kemudian, katanya, sejak muncul game online belakangan ini, anaknya malah sering meminta uang untuk ke warnet bermain game online. “Saya tak bisa berbuat apa-apa. Satu jam main game online biaya Rp5.000. Kalau sudah habis main, minta duit lagi. Saya hitung-hitung, hampir seratus ribu saya sediakan uang untuk keempat putra saya bermain game online,” kata Ratna.

Ratna mengaku, ia bersama suaminya sudah melakukan tindakan keras kepada anaknya agar tidak candu bermain game. Caranya dengan tidak memberikan uang. Namun, keempat anaknya malah nekad mencuri uang dari toko mereka. “Jika tidak bisa mencuri, anak-anak saya berani berhutang dengan teman atau tetangga agar bisa bermain game. Saya dan suami sudah habis akal. Sekarang anak kami malas sekolah, malas belajar dan malas mandi. Kerjaannya seharian duduk di warnet. Kalau dilarang jadi uring-uringan,” bilang Ratna.

Ratna berharap, banyaknya korban kecanduan game harus segera diantisipasi pemerintah dengan perlu segera mengadakan UU anti game. Game yang sarat dengan kekerasan hendaknya dilarang dikonsumsi di negara ini. (ila)

Pilih Permainan Edukatif
Adakalanya game sangat berguna. Game tidak hanya dikenal kalangan anak-anak tapi di kalangan dewasa bukan hal yang asing lagi. Seiring dengan kemajuan zaman yang sangat dinamis, game juga menawarkan hal-hal yang baru dan cukup menggoda. Apalagi saat ini sedang tren game online.

Kekurang disiplin dan pengalihan fungsi dari game ini menjadi hal yang sangat mengkhwatirkan. Baik di kalangan anak-anak, dewasa, maupun orangtua. Oleh sebab itu perlu adanya filter untuk mengurangi atau pun menghindari dampak dari kecanduan game.
Mungkin bisa dengan memperhatikan bentuk dari permainan/game yang di mainkan, membuat jadwal untuk bermain game guna tidak menghabiskan banyak waktu kita, perlu adanya pengawasan ekstra ketat dari orangtua, jangan pernah melarang anak untuk bermain game karena dapat memperburuk keadaan, beri pengetahuan tentang game kepada anak tentang sebab maupun akibat dari permainan/game tersebut. Kemudian, memberikan waktu yang cukup kepada anak.

Namun, bila anak sudah terlanjur candu bermain game, orangtua perlu melakukan beberapa upaya:

1. Berikan waktu luang dan perhatian yang banyak kepada anak-anak Anda. Ada kesan bahwa orangtua yang sibuk bekerja dengan mudah menyediakan perangkat video game hanya karena tidak mau repot dengan anak. Mereka mau membelikan apa pun asalkan dapat membuat anak diam. Seharusnya, orangtua boleh memberikan mainan yang anak minta asalkan ada kendali juga dari orangtua. Padahal cara ini bisa berdampak pada lemahnya keterampilan emosi anak. Mereka tidak belajar bagaimana mengelola keinginan atau mengambil pertimbangan.
2. Orangtua harus lebih selektif dalam mencarikan mainan untuk anak-anaknya. Sebisa mungkin permainan yang mempunyai unsur edukatif, bukan permainan yang mengandung adegan kekerasan.
3. Buatlah sebuah peraturan yang dibuat oleh Anda dengan anak Anda secara bersama-sama. Di antaranya perihal batasan waktu antara bermain game, belajar, dan kegiatan sosialisasi anak dengan teman-temannya.
4. Orangtua harus menanamkan pemahaman keagamaan kepada anak dengan baik. Sebab hal ini akan berpengaruh kepada moral anak. Moral anak dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan teman-teman sebaya, segi keagamaan, juga aktivitas-aktivitas rekreasi.

Tapi, bagaimana jika saat ini Anda sedang menghadapi anak yang telah terlanjur kecanduan dan sulit sekali mengubah kebiasaan bermain game-nya? Bahwa anak mengorbankan kegiatan sosialnya, enggan mengerjakan PR, dan ingin mengurangi ketergantungannya, namun tak bisa adalah beberapa indikasi anak kecanduan video game.

Memang perlu usaha yang keras untuk dapat mengembalikan keadaan anak seperti semula. Apakah anak perlu diterapi? Mungkin saja, jika tarafnya sudah sedemikian parahnya. Orangtua harus melibatkan ahli-ahli lain untuk mengembalikan anak pada kondisi normal, bisa belajar berpikir dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan sekolah, serta dapat mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah dengan wajar.

Terapi juga diarahkan agar anak bisa belajar mengelola emosinya, mampu menghidupkan perasaannya dengan baik dan sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif positif.

0 comments:

Post a Comment

Add Your Comment In Here:

Subscribe Via E-mail

Enter your email address: